SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO TELAH MEMBUKA PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN AJARAN 2021/2022

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Pencarian

Login member

Username:
Password :

Catatan Pengantar Tidur




 


Sebagai orang yang kerap dilanda kesulitan tidur, saya punya cara jitu memanggil rasa kantuk, membaca. Jika tidur orang berpuasa saja dapat bernilai ibadah, bagaimana dengan aktivitas membaca yang disebut-sebut sebagai perintah pertama—dalam tradisi keilmuan Islam. Tentu, dalam konteks ini, membaca yang bermakna secara spiritual telah mengalami pergeseran secara pragmatis—bahkan substansinya.


Jika bersepakat bahwa membaca karya sastra yang mensyaratkan dimensi estetik dan imajinatif itu tidak termasuk dalam perkara yang membatalkan atau berpotensi mengurangi kualitas (ibadah) puasa, pembaca bisa menuntaskan bacaan ini. Atau, cobalah sekadar untuk mengundang kantuk.


Di awal puasa ini, rak buku saya baru saja kedatangan penghuni baru. Tak seperti biasanya, ketiga buku baru itu tak perlu menunggu waktu lama bercokol di rak atrean. Ketiganya seolah mendesak untuk saya tuntaskan segera. Tak ada alasan khusus, ketiga buku itu ditulis atau menghimpun tulisan dari kawan-kawan penulis Banyumas Raya.


Bagi saya, kerja (kreatif) penulisan sastra serupa dengan laku ritual penganut agama, berada dalam ruang privat. Narasi-narasi yang mengiringi sebuah karya sastra sesungguhnya tak lebih dari sesuatu yang berdiri sendiri di luarnya. Kalau pun terpisah, tak berarti masing-masing entitas tak saling mempengaruhi karena dibentuk dari materi gen yang sama. Dengan begitu, pembaca akan tehindar dari labelisasi yang justru membunuh naluri kritis dalam diri pembaca, semisal mitos Pram adalah penulis realisme sosial, Chairil yang humanis universal, atau Abdul Hadi WM penyair sufi, dls. Sangat sulit membayangkan pembaca kritis-kreatif akan lahir dari model penarikan kesimpulan deduktif semacam itu.


Kembang Glempang 2


Berselisih dua hari sebelum awal bulan Ramadan 1442 H, dihelat bedah buku bertajuk Kemblang Glempang 2. Konon, buku setebal 328 halaman itu mehimpun karya pilihan penulis se-Banyumas Raya yang pernah terpublikasi di harian Radar Banyumas dan majalah berbahasa (Jawa) Penginyongan Ancas berupa cerpen, puisi, cerkak, dan geguritan. Sekaligus sebagai pembedah, hadir begawan Bambang W. dan Arif H.


Saya adalah salah seorang yang turut dalam kegembiraan yang terasa makin langka belakangan ini—sebab pandemi yang melanda. Kegembiraan itu bermula dari “gugatan” yang saya tulis dalam esai bertajuk “Menyoal Seni Penginyongan dalam Wacana Politik” yang terpublikasi di Suara Merdeka edisi 6 Oktober 2019 silam. Saya “menuntut” kelahiran Kebang Gelampang edisi lanjutan sebagai jawaban atas keraguan yang mengiringi Kembang Glepang (pertama) yang sulit untuk dipisahkan dari kelindan narasi politik (baca: pilkada). Dengan alasan itu, Kembang Glempang 2 menjadi sesuatu yang patut dirayakan—tanpa menafikan lubang-lubang yang masih perlu untuk ditambal untuk edisi 3, 4, 5, dst(?)


SMBRMJ


Sejumlah Metode Bagaimana Rindu Menerkam Jantungmu adalah tajuk buku puisi terbaru Ryan Rachman. Lebih dari sekadar kesan puitik, pembaca telah diberi sinyal hadirnya unsur retorika parodik di dalamnya.


Yang puitik dan parodik itu sesungguhnya ekspresi genuine sang penyair. Ke-96 puisi di dalamnya dapat dikategorisasi menjadi dua tema utama. Uniknya, kategorisasi ini akan turut menentukan pola strategi estetika Ryan Rachman dalam mengolah ide—sedikitnya pada pemilihan sudut pandang, diksi, hingga retorika yang khas.


Arena pertama adalah arena romantik yang memproyeksi “dunia kecil” aku lirik sebagai subjek dalam relasi organiknya dengan kekasihnya. Secara berulang-ulang, pembaca bisa menemukan kehadiran “kekasih” sang penyair yang bernama Ayu.


Pada tema-tema sejenis, Ryan Rachman mengusung estetika romantis. Dalam teori kekerasan simbolik, yang dilakukan Ryan Rachman dengan menulis puisi adalah praktik berwacana demi tujuan mempertahankan posisinya yang dominan dalam relasi cinta dengan kekasihnya.


Lain hal saat kita membaca puisi Ryan Rachman yang bermain di arena yang lebih “luas”, realitas dunia objektif. Dalam arena itu, ia mengubah kesadaran bahasanya sesuai dengan peran sosiologisnya. Pengetahuan ekologis dan gagasan humanisme menjadi sudut pandang aku lirik yang menggugat dalam puisi. Seperti dalam puisi “Bukit Banjaran, Selepas Hujan”.


Ryan Rachman menampakkan maskulinitas dalam motif yang lain dari sebelumnya. Jika sebelumnya kita membicarakan ia berwacana untuk melanggengkan posisinya dalam relasi cinta, pada puisi “Bukit Banjarang, Selepas Hujan” ia berwacana untuk menandingi—merobohkan wacana modernisme yang menciptakan manusia ironi yang oleh Ryan Rachman sebut sebagai “orang  kota megalomaniak.”


BDKPT


Bujuk Dicinta, Kenangan Pun Tiba adalah novel karangan Eri Setiawan, seorang guru cum penulis kelahiran Banjarnegara. Novel ini mengeksplorasi hubungan organik dua tokoh utamanya dalam pendekatan psikologis yang dominan. Eri bertutur secara lancar dengan sudut pandang orang ketiga. Alur begerak secara liniar dalam kronologi waktu dengan penutup terbuka yang menimbulkan kesan twist. Dengan argumentasi itu, sangat dimungkinkan Eri telah menyiapkan rencana sekuen keduanya.


Tantangan terbesar dari pemilihan sudut pandang ketiga adalah diperlukan kelincahan narator untuk menyelami setiap karakter tokoh. Ketika narator mendeskripsikan pikiran dan perasaan tokoh perempuan, sangat terasa narator berpijak dalam perspektif laki-laki (sangat mungkin adalah pengarang). Bias itu juga tampak dalam penokohan yang stereotip antara tokoh lak-laki dan perempuan yang lazim kita kenal dalam budaya patriarkhi. Catatan minor itu dapat dinafikan begitu saja dengan sebuah argumentasi bahwa novel ini lahir dengan kesadaran pengarang yang menyasar segmen pembaca spesifik, remaja akhir atau dewasa awal. Have nice dream.


 


Penulis  : Mufti Wibowo, guru tidak tetap SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto.


gambar : techagilist.com


 


*Tulisan dengan judul yang sama sudah terpublikasi di media “Radar Banyumas” edisi Minggu, 9 Mei 2021


 


 



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas