SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO TELAH MEMBUKA PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN AJARAN 2021/2022

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Pencarian

Login member

Username:
Password :

Putri Ayu Limbasari: Tamasya ke Masa Lalu




ilustrasi: dokumen pribadi


 


Membaca “Putri Ayu Limbasari dan Legenda-legenda Purbalingga” membuat saya seolah terlempar ke masa kecil. Dengan kalimat itu, saya ingin mengatakan pada pembaca betapa berharga buku ini, bagi saya sebuah katarsis--betapapun makna kata itu terasa lebih besar dari yang saya maksudkan. Tamasya istimewa untuk anak dusun seperti saya tak perlu neka-neka, tidak ke Disneyland, bukan ke Raja Ampat, tapi cukup dengan mendengarkan cerita-cerita ajaib dari orang-orang tua, terutama mbah dari ibu. Kemudian, saat mbah dari ayah saya meninggal, saya baru mengetahui, ia mewariskan sebuah naskah autobigrafi dalam bentuk yang sangat sederhana, tulis tangan. Kebetulan berikutnya, mbah saya ini punya ikatan khusus dengan Desa Limbasari.


      Saya membayangkan secara liar kecantikan Putri Ayu Limbasari dan kesaktian saudara lelakinya yang diam-diam membuat saya iri bukan main. Bagaimana seorang perempuan yang saat mandi, selendangnya membentuk lengkung pelangi, atau seorang lelaki memiliki kesaktian bisa hidup lagi setelah tubuhnya dimutilasi menjadi empat bagian. Belakangan, saya sering meminjam khasanah foklor di Banyumas raya dalam tulisan, sebagai alusi atau parodi. Ada kesenangan saat melakukannya. Dari mereka, saya banyak berhutang khazanan sastra lisan. Tapi ada sialnya, saya termasuk buruk dalam hal menghafal sehingga tak cukup banyak hal saya rekam dengan baik. Beruntung sekali, saya dipertemukan dengan buku yang disusun oleh Rahayu Pujiutami.


      Mbah kakung dari ibu saya adalah pengagum Jaka Tingkir. Tentu dia tak pernah mengatakannya, tapi dia paling sering menceritakan sosoknya. Bertahun-tahun kemudian, saya mencari literatur sejarah tentang sosok yang juga akrab disebut Mas Karebet. Hingga kemudian, saya menyimpulkan Jaka Tingkir adalah sosok inspiratif, simbol perjuangan sekaligus kesuksesan. Dalam konteks Banyumas, motif yang sama dimiliki mereka yang mengagumi Jaka Kaiman.


      Dalam khazanah sastra mutakhir, kita mengenal nama Iksaka Banu. Lebih dari sekadar merekam peristiwa yang tercatat dalam manuskrip sejarah, Iksaka Banu berhasil menghidupkan manuskrip-manuskrip itu dengan pemilihan sarana cerita yang apik dan proporsional. Pembaca jauh dari kesan membaca laporan peristiwa yang membosankan alih-alih membaca sebuah karya sastra yang barang tentu menawarkan imajinasi berkelas. “Putri Ayu Limbasari dan Legenda-legenda Purbalingga” masih belum sampai pada level “Teh dan Pengkhianat”, sebagai misal. Pola-pola yang khas sastra lisan masih tampak menonjol ketika ditranskripsikan ke bentuk tulis. Tentu itu bisa dipahami sebagai upaya menjaga orisinalitas cerita.


      Kecenderungan orang tua ‘generasi baru’ memiliki kesadaran literasi relatif meningkat. Hal itu yang menjelaskan jumawanya buku cerita anak--dan tentu penulisnya--dibandingkan buku dan penulis sastra serius di hadapan industri. Kita bisa melihat data statistik industri pebukuan nasional pada tahun-tahun ke belakang. Kenapa saya membicarakan itu, adanya gejala mengkhawatirkan anak-anak yang ‘dipaksa’ orang tua untuk lebih mengakrabi kebudayaan asing alih-alih kebudayaan nasional--kita tidak akan membicarakan betapa biasnya definisi kebudayaan nasional kita.


      Saya sangat sepakat kita perlu membaca buku-buku terjemahan dari penulis asing yang mumpuni alih-alih penulis-penulis lokal justru lebih asik menulis sesuatu yang bukan miliknya sendiri. Kehadiran “Putri Ayu Limabasari dan Legenda-legenda Purbalingga” menunjukkan betapa kaya kebudayaan nasional kita. Yang perlu kita catat, buku ini hanya besifat lokal, Purbalingga. Bisa dibayangkan betapa kaya kebudayaan Indonesia yang teridiri atas 34 provinsi dan 514 kabupaten dan kota. Kita bisa mengapitalisasinya untuk “menandingi” infiltrasi kebudayaan pop global macam K-Pop yang meranjingi hampir semua remaja Indonesia hari ini.


      “Putri Ayu Limabasari dan Legenda-legenda Purbalingga” membuat saya merasa berhutang kebahagiaan karena kesempatan bertamasya ke masa lalu. Celakanya, sekarang, saya malah dihantui perasaan ‘ngenes’ sebab disadarkan telah alpa dalam kewajiban mewariskan identitas kultural yang otentik kepada generasi muda hari ini.  Kabar baiknya--kita mesti bersyukur karenanya--tanggung jawab itu telah ditanggung Rahayu Pujiutami dengan pundaknya. Rahayu yang diwasilahi Rahayu.(*)


 


Penulis: Mufti Wibowo, staf pengajar SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto.


 


catatan: tulisan ini pernah terpublikasi di Radar Banyumas, 19 Juli 2020



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas