SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO TELAH MEMBUKA PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN AJARAN 2021/2022

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Pencarian

Login member

Username:
Password :

Ku Abadikan Mendung Menjadi Senyumanmu




 

Aku jadi ingat karung cokelat Handoko yang seperti awan mendung itu.

Penuh.

Pasti sebentar lagi hujan deras.

***

Tiap pagi-pagi hujan, aku malas pergi ke sekolah. Kamar sengaja ku kunci, pura-pura tidak dengar ketika Ibu menggedor pintu keras-keras dan tentu saja sambil ngomel. Ku tutup telinga dengan bantal erat-erat sampai tak terasa setengah hari hujan itu terlewat dengan tidur lagi. Aku bangun karena lapar. Bergegas ke meja makan, membuka tudung saji dan memakan tempe goreng yang dingin seperti hari ini.

“Ya Allah Le.. sarung mung nggo krodongan, ora mangkat Jumatan!!” Ibu ngomel lagi, segera kupeluk dan kuciumi pipinya. Biasanya kalau sudah begitu pasti ngomelnya berhenti. Benar saja Ibu jadi malas melanjutkan ngomel-ngomelnya, dan aku senang.

“Tadi bu gurumu kesini Rul. Bu Asri. Katanya kamu suruh ikut lomba cerpen.”

“Oh..”

Ibu cepat menabokku gemas, “Lha kok cuma ‘oh’?! piye tow cah iki”

Aku hanya tersenyum sambil mengambil satu lagi tempe goreng dan meninggalkan ibu yang kalau tidak kutinggal pasti mau ngomel lagi. Sayang sekali tidak ketemu Bu Asri tadi. Pasti asik kalau bisa mendapat senyum manis Bu Asri yang merayu untuk ikut lomba.

***

Benar saja, besoknya Bu Asri memintaku menemuinya di kantor, merayu untuk ikut lomba cerpen dan ku ‘iya’ kan dengan cepat. Secepat Bu Asri menghipnotisku dengan senyumnya yang cantik. Tidak susah untuk membuat cerpen tentang ‘cerita tak terlupakan’. Aku izin tidak ikut pelajaran matematika dan IPA untuk ndekem—eh, membuat cerpen di perpustakaan pada Bu Sari dan Pak Hari. Sungguh bukan karena males ikut pelajaran lho. Pelajaran beliau tidak membosankan kok. Aku saja yang cepat bosanan. Sumpah deh!

Aku melihat Handoko dari jendela perpustakaan. Mencurigakan sekali karena dia membawa karung goni besar dan mengendap-endap di sekitaran kantin. Aku memperhatikan dan siap siaga berteriak maling kalau dia kudapati mencuri jajanan di kantin. Segera aku terperanjat. Yang diambilnya adalah botol bekas di tong sampah dan sampah plastik yang berceceran di sekitaran kantin.

Owalah Gusti.. astaghfirullah.” Ak menyesali prasangka buruk yang menyelimuti hatiku tadi. Ku tinggalkan cerpenku yang hampir selesai dan pergi menemui Handoko.

“Handoko,” aku menyapanya sangat pelan. Takut dia terkejut dengan kedatanganku.

“Eh, Fahrul... ini... aku anu cuma...,” dia tidak melanjutkan dan memilih duduk di sebelahku. Aku diam menunggu.

“Ibuku sakit-sakitan, Rul. Bapakku di Jakarta nggak pernah ada kabar. Adik perempuanku udah ngga sekolah karena merawat ibu.”

Aku diam. Dadaku rasanya sesak dan tenggorokanku tercekat, kalau menangis pastilah mudah. Tapi tentu tidak solutif.

“Apa yang bisa aku bantu buatmu, Han?”

“Enggak usah Rul, inikan masalahku.” Dan dia berlalu pergi. Badannya yang lebih kecil dariku tertutup karung goni di punggungnya.

***

Semalaman aku tak bisa tidur. Makan saja tak enak. Sayur bayam rasanya tawar. Ayam goreng rasanya seperti makan jambu mentah. Aku kepikiran Handoko dan keluarganya. Membayangkan Ibunya yang kesakitan. Membayangkan adik perempuannya yang menangis lapar. Membayangkan Handoko yang kelimpungan dengan situasi yang sedang dihadapinya sementara dia harus tetap baik-baik saja.

Aku mondar-mandir di kamar. Mondar-mandir ke ruang tengah, ke dapur, ke ruang tamu, ke teras. Semua pemeran di tivi yang sedang ku tonton wajahnya jadi wajah Handoko. Bingung aku!

“Ya Allah! Cerpenku ketinggalan di perpustakaan, kemarin! Padahal hari ini terakhir dikirimnya!”

“Istighfar, Nang. Sarapan dulu baru berangkat sekolah.” Ibu yang bersiap ke kantor bersikeras mendudukanku untuk sarapan.

***

Sungguh baru kali ini aku berlari dari parkiran sepeda ke perpustakaan. Sedari perjalanan, aku bersumpah kalau menang semua hadiahnya akan kuberikan untuk Handoko. Sial, perpustakaan belum buka.

Aku kembali berlari ke ruang guru yang masih lengang, mencari Bu Asri. Enatah berharap apa. Yang penting ketemu Bu Asri dulu.

“Bu Asri... anu perpustakaannya..cerpenku..,” nafasku berderu cepat tak dapat ku kendalikan.

“Ada apa dengan perpustakaan dan cerpen, Rul? Sini duduk dulu, tarik nafas panjang dan minum teh manis nih.”

“Bu, cerpenku tertinggal di perpustakaan dan hari ini hari terahir mengirimkannya. Sementara itu belum sempurna selesai Bu.”

Sudah kukatakan. Entah kenapa wajahku rasanya panas, aku tertunduk menggenggam kuat-kuat tanganku. Sesak sekali dadaku.

“Jangan nangis Rul, masih ada waktu sampai jam dua belas siang ini.” Kata-kata Bu Asri yang menenangkan entah mengapa tak membuat tangisku enggan berhenti.

***

Aku kembali ke perpustakaan. Berlari. Ku lihat pintu perpustakaan sudah dibuka, dan kertas-kertas itu sudah tidak ada. Kata Pak Sigap sudah dibuang karena dikira sampah. Kucari di tempat sampah pun nihil.

Di tempat sampah yang terahirpun kosong. Aku terduduk.Lemas.

“Kamu cari ini Rul?” Handoko yang tiba-tiba mengulurkan selembar kertas yang kucari.

“Dari mana kau tahu?”

“Ceritanya bagus sekali. Pasti menang!” imbuhnya sambil tertawa lebar dan berlalu meninggalkanku.

“Pasti!” jawabku penuh percaya diri.

***

TOK TOK TOK

“Masuk..”

“Maaf Pak, ada telepon dari Pak Manager Handoko. Beliau menyampaikan fix bahwa Bapak menjadi narasumber dalam acara peluncuran buku kumpulan cerpen Bapak di Jakarta, minggu depan,” terang seorang staffku—pemilik senyum seindah senyum Bu Asri—menghentikan lamunanku.

Sebelum pergi, aku memintanya menelepon balik Handoko untuk mengonformasi kesediaanku.

 

Penulis: Miss Rufiah Ning Asrianti

 

Source Picture: https://i.pinimg.com/originals/8f/61/10/8f6110971d883f5b15e7eca6a90df9e4.jpg




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas