• gambar
  • gambar

SELAMAT DATANG DI WEBSITE SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO---SEKOLAH BERWAWASAN INFORMASI, TEKNOLOGI, DAN SENI---TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Prestasi Siswa

Login member

Username:
Password :

Status Member

Rania Tertelan Kesedihan; Cerpen Syamsyar Afnenda Kusuma




image: pinteres.com

 

Ini kisah tentang Rania dan Radit. Hampir semua orang di sekolah mereka tahu bahwa mereka bersahabat baik. Konon, sejak SD mereka satu sekolah. Belum lagi, ibu Radit adalah teman kerja ayah Rania. Semesta sepertinya bersepakat mendekatkan keduanya. Cie...

Pada saat jam istirahat,  Radit melihat Rania sedang sibuk di antara rak-rak buku yang menjulang. Sepertinya Rania sedang mencari sesuatu. Melihat itu, Radit beranjak setelah menutup buku yang sedang dibaca tanpa memberi pembatas. Saat akan melanjutkan bacaannya nanti, dia akan menyadari keteledorannya itu.

Sebelum Rania mencari buku di bagian rak terbawah yang berada paling ujung ruang perpustakaan yang temboknya bercat hijau muda itu, seorang anak laki-laki sempat menaiki kursi kayu untuk mengambil buku yang berada di bagian paling atas rak. Sebelum pergi, dia dimarahi petugas perpus karena hampir lupa mengisi buku pinjam. Tentu saja dia sedang terburu-buru, petugas perpus sangat mengenal anak yang mengunjungi perpus sekolah dua kali sehari itu.

Rupa-rupanya, anak itu pula yang membuat susunan buku di rak atas menjadi kacau, tak rapi. Buku yang semestinya ditata horizontal malah ditumpuk vertikal. Belum lagi cara menumpuknya yang terkesan sembarang, buku yang lebih lebar tidak diletakkan di bagian paling bawah, malah sebaliknya. Tumpukan itu hampir menyentuh langit-langit.

Sesuatu yang tak diinginkan siapa pun terjadi, pada saat Rania menekuri buku-buku di bagian bawah rak, tumpukan buku di bagian atas rak tumbang.

“Awas, Rania!” teriak Radit.

Rania yang waspada langsung melindungi kepalanya dengan sebuah buku tebal yang sedang dipegangnya. Beruntung sekali, buku-buku itu tak sampai menimpa kepalanya, tepatnya hanya sebagian menimpa pundak kirinya. Sebagian banyak hanya bergesekan dengan angin sebelum mendarat di lantai dan membuat bunyi dentuman yang cukup menarik perhatian semua penghuni ruang perpus yang memang tak pernah seramai kantin sekolah.

Untuk beberapa saat, Rania yang panik tidak memindahkan pelindung kepalanya meskipun berkali-kali Radit memanggil namanya.

Rania baru benar-banar sadar ketika seorang perempuan petugas perpus yang suaranya sangat ia kenal berteriak histeris. “Ada apa ini, anak-anak, jangan bikin gaduh di tempat ini, ini perpustakaan bukan taman bermain!”

Radit menjelaskan kejadian sesungguhnya. Petugas perputakaan merasa tidak perlu menanggapi alasan yang terkesan dibuat-buat itu. Akibatnya, Radit dan Rania mendapat tugas untuk merapikan buku-buku itu dengan mengembalikan pada raknya sesuai urutan katalog.

“Kamu nggak apa-apa, Ran.”

“Jangan berlebihan, kamu bisa lihat sendiri aku baik-baik saja.”

“Jangan sok kamu, aku lihat sendiri wajah cupu saat kamu panik sampai-sampai tak mendengar saat kupanggil, haha.”

Wajah Rania merona kemerahan. Dia memukul pelan buku yang sedang dipegangnya ke lengan Radit. “Ngomong-ngomong, terima kasih, ya.”

*

Keeseokan harinya, Radit tak menjumpai Rania di kantin sekolah atau di perpustakaan. Karena penasaran, Radit bertanya kepada teman sekelas Rania. Rahma memberi tahunya bahwa ibu Rania sedang sakit. Karenanya, Rania mesti menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit.

Dari Rahma, Radit tahu kalau ibu Rania sakit jantung. Pada saat yang sama, Radit menerima ajakan Rahma yang akan membesuk ibu Rania. Sepulang sekolah, mereka bersepakat akan menuju rumah sakit tempat ibu Rania dirawat.

Setelah bel pulang berbunyi, keduanya bergegas menuju rumah sakit. Setibanya di sana, mereka berdua mendapati Rania sedang berada di bangku, sendiri. Rupanya ibu Rania masih dalam keadaan kritis di ruang intensif yang tidak bisa diakses siapa pun kecuali petugas rumah sakit. Orang-orang yang diizinkan masuk mesti menggunakan pakaian steril. Karena mendengar penjelasan itu, Rahma dan Radit mengurungkan niatnya untuk bertemu ibunya. Toh, mereka sudah bertemu Rania.

*

Sejak pertemuan di rumah sakit, hingga dua minggu kemudian, Radit tak pernah bertemu lagi dengan Rania. Tidak, tidak hanya Radit yang kehilangan. Tetapi, semua teman-temannya juga guru-guru. Bahkan, satpam sekolah yang diakrabi Rania beberapa kali menanyakan pada Radit atau Rahma yang dikenal sebagai sahabatnya.

Semua tentang Rania menjadi pertanyaan yang tak terjawab oleh siapa pun, termasuk Radit dan Rahma. Nomer ponsel dan WA tak ada yang bisa dihubungi. Rumahnya yang beberapa kali didatangi Radit dan Rahma pun selalu terlihat sepi. Rumah itu terlihat tak terawat, tanaman bunga di depan rumahnya mulai mengering tanpa daun yang telah ranggas sebelumnya.

Rania benar-banar hilang etah tertelan oleh apa. Tak terjangkau oleh siapa pun. Mungkin saja ini kelakuan kesedihan yang terlalu kejam dan getir karena ibunya meninggal.

 

 

Tentang penulis: Syamsyar Afnenda Kusuma tercatat sebagai pelajar aktif di SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas