• gambar
  • gambar

SELAMAT DATANG DI WEBSITE SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO---SEKOLAH BERWAWASAN INFORMASI, TEKNOLOGI, DAN SENI---TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Prestasi Siswa


Robotika

Kejuaraan di Cilacap



:: Selengkapnya

Login member

Username:
Password :

Status Member

Kafyat; Cerpen Rufi




Image: pinterest.com

 

 

Tiba-tiba aku teringat kembali kepada sebuah perasaan yang pernah kualami di masa kecil, ketika kudengar daun pisang dirobek oleh angin malam, hanya saja waktu itu aku tak berdaya karena tak memiliki uang untuk membeli sepatu dan kaus kaki, kini yang tak kupunyai adalah harga diri yang tak mungkin dibeli.1

         

          Tiga hari lagi sekolah akan dimulai, kemarin sudah di chat oleh Pak Duloh untuk memimpin upacara di hari pertama dengan adik-adik kelas yang baru. Ah iya, namaku Kafyat. Aku adalah ketua OSIS di sekolahku, SMP Cahaya. Akulah pemenang mutlak pada pemilihan OSIS tahun lalu. Tentulah teman-teman tahu kepiawaianku dalam memimpin. Semua guru menyukaiku karena aku anak yang aktif di kelas sekali pun sering kali jawabanku tidak sesuai.

                Seperti hari-hari lainnya, meski libur, aku selalu bangun pagi-pagi sebelum ayam berkokok. Mengambil bakulan untuk menimba air di sumur kebun tetangga yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Mbok bilang kalau air sumur di pagi hari sehatnya setara dengan air zamzam. Bisa bikin kambing-kambing si Mbok gemuk, bisa bikin tanaman kacang panjang Ramane subur sampai ke cacing-cacingnya, dan membuatku tumbuh sehat sekali pun tidak minum susu. Aku sangat percaya karena kata-kata mbok itu sakti.

                “Le, nanti kebun Yu Dasem di siram ya. Jangan lupa.”

                Suara simbok dari dapur sedang orangnya tidak terlihat karena terhalangi asap tungku.

                “Nggih.”

                Bu Dasem adalah pemilik sumur yang setiap hari aku ambil airnya. Beliau orang yang sangat baik. Kadang aku juga diberi sarapan olehnya. Tahu, tempe, dan rendang sapi kalau ada lebihan sinoman. Simbok selalu menyuruhku sesuatu untuk berterimakasih pada Bu Dasem. Kadang mencabut rumput, menyapu kebun, menyiram tanaman di kebun, dan yang paling aneh waktu itu, membuang ulat-ualat daun di kebun Bu Dasem.

 

***

 

Detik jam terus terdengar menyesaki kamar yang sempit. Yang mengherankanku mengapa ia tak pernah penuh.2

         

          Embun bergelayut manja di ujung-ujung daun, udara lembap memenuhi hidungku yang semangat mengayuh sepeda. Aku pergi sekolah tidak dengan sepatu dan juga tas baru. Aku yakin simbok juga tidak ingin seperti itu. Jadi aku merasa baik- baik saja. Temanku Rudi menyambut hangat di teras kelas, merangkul seperti dua orang yang lama tidak berjumpa. Kemudian diikuti kawan kelas yang lain.

                “Kamu sudah dicari Pak Duloh tuh, Yat,” katanya kemudian.

                “Siap! Aku ke ruang OSIS dulu ya.”

                Aku mendengar ribut-ribut di ruang OSIS. Banyak anggota berkerumun. Aku menyusup di kerumun itu karena penasaran. Ini hal tidak biasa.

                “Ada apa, Rin?”

                “Untung kamu datang, Yat. Itu Wahid dan Santoso berantem tentang kepanitiaan Edu Fair, Yat,” terang Rindu.

                Bergegas aku menemui mereka berdua yang sedang beradu mulut. Satu dan lainnya malah saling sikut, masing-masing merasa benar. Kutarik kerah baju mereka berdua dan mendudukannya. Otot yang biasa menimba dan membawa bakulan air dari sumur Bu Dasem ternyata memberi manfaat yang lain pada situasi ini. Lalu keduanya menunduk memandangi lantai. Aku meminta semua orang, kecuali kami bertiga untuk keluar dari ruang OSIS. Sebelum mereka pergi, aku lupa meminta Rindu untuk menjaga situasi di luar jangan sampai terdengar oleh Pak Duloh dan guru yang lain.

                “Apa yang membuat kalian terlihat memalukan begini? Jawab, Wahid!” teriakku tegas.

                “Gini Yat, Santoso tiba-tiba menyerobot tugasku sebagai koordinator tempat.”

                “Habis dia jadi koordinator ngga becus, Yat,” timpal Santoso.

                “Maksudmu?”

                “Dia mengambil alih semua pekerjaan yang seharusnya bisa dibagi dengan anak-anak lain, Yat! Maksudnya apa coba? Mau cari muka, kamu? Biar tahun depan jadi penggantinya Kafyat?!”

                Mendengar itu, meledaklah tawaku. Apalagi melihat wajah Wahid yang merah menahan malu dan marah pada Santoso. Tadinya aku hendak marah, tapi urung karena ternyata ini bukan sebuah masalah teknis, tapi masalah hati.

                “Benar kata Santoso, Hid?”

                “Ya. Tapi, tidak seperti itu juga, Yat.”

                “Kamu boleh jadi penggantiku tahun depan, bahkan sekarang pun kalau kamu menginginkannya. Tapi, apa kamu sudah siap? Caramu mengambil alih saja masih buruk begitu.”

                Wahid hanya menunduk. “Maaf, Yat.”

***

Ada celah kosong di antara dua buah kalimat, di mana tersimpan banyak hal yang mungkin saja belum memperoleh bentuknya menyebabkan seperti lubang hitam di angkasa yang tetap akan menjadi misteri sepanjang kehidupan.

Atau mungkin sekadar kesempatan kepada orang lain untuk menduga-duga jangan-jangan semuanya bukan seperti yang didengarnya bahkan bukan seperti yang dipikirkannya tetapi seperti apa, juga tak pernah jelas, kerena ia hanya wadah kebimbangan yang membayangi setiap kebenaran yang mutlak untuk menunjukan pikir manusia tak pernah sempurna.

Celah itu terus bergerak bahkan ketika manusia mati pun ia terus tumbuh di luar pengetahuan manusia.3

 

                Aku memang bukan orang kaya. Bukan juga orang yang selalu baik. Tapi aku masih bisa berpikir dan belajar dari orang tua, dari hidup. Aku meyakini bahwa suatu hal baik akan datang apabila kita melakukan hal yang benar. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Egois itu ada masanya. Jangan sampai keegoisan jadi menyakiti manusia lain.

                Benar saja aku meyakini kata-kata Simbok adalah kata-kata sakti. Bukan dari orang lain, aku tahu hal itu. Simbok selalu mengajarkan hal baik lewat kebiasaan yang diterapkannya padaku. Yang aku sendiri tanpa sadar menjadikannya sebagai identitas diri.

                Aku melihat Wahid meminta maaf kepada Santoso dan teman yang lain. Kemudian dia melempar senyum padaku dan berlari menghampiriku.

                “Yat, siap-siap tahun depan aku gantikan, ya!”

 

catatan kaki: 

Harga Diri dalam Uap, Putu Wijaya

Waktu dalam Uap, Putu Wijaya

Celah dalam Uap, Putu Wijaya

 

tentang penulis: Rufi'ah NA saat ini tercacat sebagai guru aktif SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas