• header milad
  • header pahl

SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO TELAH MEMBUKA PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN AJARAN 2023/2024

Kontak Kami


SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

NPSN : 20301881

Jl.Perintis Kemerdekaan NO.6 Purwokerto 53141


smpmuh1pwt@yahoo.com

TLP : (0281) 637782


          

Pencarian

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS DI




 

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS DI KELAS 8E SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

 

Diajukan untuk memenuhi syarat guna memenuhi Ukin PPG dalam jabatan di UNY

 

 

Disusun oleh;

                                                  Nama : Gunallan Fadjar Sidik Pramono,S.Pd

                                                  NIM : 23102460378

                                                  Kelas : E/005

                                                  Kelompok : E3 PPL SIKLUS 2

                                                  Unit Kerja : SMP MUHAMMADIYAH 1 PURWOKERTO

 

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Universitas Negeri Yogyakarta

Tahun 2023

 

 

PENDAHULUAN

Keberhasilan pembelajaran dapat ditunjukan dengan pencapaian tujuan pembelajaran berupa ketuntasan hasil belajar peserta didik. Adapun salah satu penunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah factor kemampuan pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya. Pendidik harus menciptakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan yang ditetapkan secara optimal.

Adanya hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial rendah terutama pada aspek koginikif. Hal ini dapat diendus dari sikap peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran kurang terpusatkan pada tujuan awal dari belajar itu sendiri. Model pembelajaran dan media yang disajikan dari seorang pendidik penyampaikan materi pembelajaran akan menjadi faktor keberhasilan dalam belajar.

Metode tradisional konservatif yang melekat bagi seorang pengajar sangat kurang jitu diterapkan di era digital jaman generasi Z. Mengapa? Adalah generasi yang terlahir sudah melek teknologi Ketika dihadapkan pada pengajaran yang menjelaskan secara abstrak tanpa media pembelajaran, pengajar yang mendominasi atmosfir kelas, sementara peseta didik terpatung pada melihat dan mendengar maka dengan sendirinya materi yang tersampaikan akan kaku dan tidak berkesan serta terasa membosankan.

Diadakannya upaya meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas VIII.E SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto dalam pendekatan pembelajaran inovatif dengan Discovery Learning sebagai model adalah bagian dari usaha meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Discovery Learning sebagai model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan menekankan proses penemuan dan pengalaman belajar secara aktif. Dalam model ini peserta didik dituntut mengamati, mengklasifikasikan, menjelaskan, dan membuat kesimpulan pada sebuah konsep. Peserta didik juga dilatih untuk berfikir secara analisis dan problem selving dengan memecahkan masalah yang nyata. Model ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik belajar mandiri maupun dalam kelompok kerja.

 

 

PEMBAHASAN

Bilamana kondisi peserta didik kurang minat terhadap suatu pelajaran atau mata pelajaran kiranya dapat ditelusuri dari berbagai cakupan permasalah yang ada, seperti ; beban sekolah, cara mengajar, minat malas, masalah pribadi, tidak ada panutan, cara penyampaian, belum menemukan cara belajar yang tepat, pacaran (siklus masa remaja), dan fasilitas yang berlebih.

Dari kesemuannya, paling berkepentingan dengan seorang pengajar adalah ; pertama cara bagaimana pengajar perlunya mengevaluasi diri dalam mengajar yang diterapkan selama ini kepada peserta didik (apakah sudah sesuai dan tepat?). Jangan merasa penyampaian pembelajarannya sudah sesuai dan jangan pula menjadi bosan karenanya. Sebagai triger mengajar sudah semestinya dari seorang pengajar akan selalu memperbaiki dan memperbaharui (pengetahuan selalu berkembang). Kedua, manusia adalah tempatnya kilaf dan kealpaan, terkadang seorang pengajar diluar kesadarannya melontarkan kalimat yang membuat peserta didik tidak nyaman. Ucapan yang sebenarnya dalam proses membangkitkan atau memberikan semangat kepada peserta didik, apabila disampaikan bukan pada ruang, waktu dan refkuwensi yang kurang tepat akan berakibat negative bagi peserta didik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kondisi tidak nyaman dan malas. Diperlukan diksi dengan pendekatan yang tepat serta relakan niat tangan dari langkah hati dalam membuka koridor peserta didik agar tercipta rasa nyaman, tenang, dan terbuka. Ketiga, telah diketahui bahwa seorang pengajar itu ibarat ahli masak, memiliki kelebihan dan dengan gayanya tersendiri yang unik dan bagaimana mengolah pembelajaran menjadi hidangan yang memiliki kualitas, rasa, gaya sajian yang menggugah selera bagi peserta didik. Pun kiranya sajian tersebut setelah dihidangkan dan dikonsumsi peserta didik akan telihat pula bagimana mereka setelah menerima semua itu. Karena setiap individu dari peserta didik akan berbeda dalam menerima, ada yang mudah paham dengan mendengar, melihat gambar atau tayangan visual, membaca dan sebagainya. Ketidak sukaan atau kurang nikmatnya dari sajian dikonsumsi yang dinikmati tiap-tiap  peserta didik akan membentuk rasa malas, bisa juga muncul ini dikarenakan kurang sesuainya dengan kemampuan dalam menyerap ilmu. Disini, peran seorang pendidik perlunya mengedukasi kepada peserta didik mengenal potensi yang ada pada masing-masing pribadi. Sekiranya peserta didik tahu metode belajar seperti apa yang membuat mereka mudah mencerna Pelajaran, pastilah segalanya jauh akan lebih muda. Bagi pengajar tinggal mendampingi sambal terus mendukung.

 

Melihat kenyataan dan menemukan pembelajaran yang tepat adalah bentuk jawaban dimana pendidik yang jeli dan sadar akan tujuan pembelajaran agar disukai oleh peserta didik. Seorang pengajar yang memilik kepekaan akan menerapakan model pembelajaran yang tepat. Model discovery learning adalah salah satu model pembelajaran yang mengkondisikan peserta didik untuk bisa menemukan, mencari, dan mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. Peran seorang pengajar di dalam model pembelajaran ini dalam  mengkondisikan, menciptakan dan mendinamisatorkan ruang belajar peseta didik guna belajar mandiri dalam keaktifan dan kemandirian sangatlah sentral. Kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik terlibat langsung di dalamnya dengan sendirinya akan menciptakan komunikasi aktif dalam komuni dan mereka akan penemuan konsep-konsep sendiri.

Pada pembelajaran IPS telah tersampaikan pada peserta didik kelas 8E SMP Muhammadiyah 1 Purwokerto dengan menerapkan model discovery learning pada materi Perkembangan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia secara umum bisa dikatan berhasil dengan indicator pencapaian belajar peserta didik. Dalam mengejakan soal isian singkat dan pilihan benar atau salah serta soal bentuk joint wit arrow peserta didik dari 23 siswa dapat di jabarkan sebagai berikut; Pada kelompok soal pertama terdiri dari lima soal dalam bentuk isian singkat 23 siswa dari lima soal didapati mampu menjawab benar semua sebanyak 14 peserta didik dan mampu menjawab 3 soal sebanyak 9 peserta didik. (ditemukan, Kesalahan dari peserta didik adalah  tidak atau kurang teliti dalam menempatkan jawaban). Pada kelompok soal kedua menggunakan tiga soal dengan bentuk menentukan kalimat benar atau salah, dari 23 siswa didapati 11 mampu menjawab 2 dengan benar, 5 menjawab hanya satu jawaban benar serta 7 belum mampu menjawab dengan benar (disini ditemukan dari olah TKP banyak dari peserta didik yang kurang teliti dalam membaca sehingga terjadi jawaban error, ketergesa-gesa karena terintimidasi secara tidak langsung dari teman yang sudah selesai atau kegaduhan yang ada). Pada kelompok soal ketiga sebanyak 4 soal dalam bentuk mencocokan atau menghubungkan antara soal dan jawaban, dari 23 siswa semua mampu menjawab dengan benar. Secara parsial model discovery learning pada materi bagaimana Perkembangan agama dan kebudayaan Islam di Indonesia yang dipraktekan di kelas 8E dinyatakan tuntas dengan nilai rata-rata 78,13 atau bila dirinci dari 23 peserta didik dengan nilai 75 sebanyak 16 siswa(69,56%), peserta didik dengan nilai 83 sebanyak 5 siswa (21,73% ), dan peserta didik dengan nilai 91 sebanyak 2 siswa (08,69%).

 

 

KESIMPULAN

Bedasarkan pembelajaran inovatif dengan mengunakan model discovery learning meninggalkan pembelajaran konsevatif dapat menumbuh-kembangkan prestasi belajar bagi peserta didik.

Pembelajaran yang inovatif akan terasa seksi dan gemoy dimata peserta didik sehingga akan menggugah rasa ingin tahu, penasaran, daya tarik, minat dan rasa daharga bagi peserta didik.

Peran seorang pengajar yang mampu, tidak saja dalam menyajikan menu pelajaran inovatif namun dituntut pula meformulakan ramuan-ramuan rahasia pada akhirnya mampu menggugah rasa keingintahuan dan membangkitkan sugestif bagi peserta didik.

Pengajar pada awalnya melihat dan merasakan adanya staknasi belajar, semua itu buah dari cara mengajar yang biasa saja, monoton, tidak menantang atau kurang gahar. Dihadirkannya pembelajaran model discovery learning salah satu dari beraneka inovasi belajar yang ada, mampu menggugah rangsangan tersendiri bagi tiap-tiap peserta didik.

Konklusi, timbulnya  dekandensi minat belajar pada peserta didik pada mata pelajaran IPS akibat pengajar terpenjara pada akar konvensional parsial. Maka seorang pendidik secara futuristic dituntut untuk mampu mengembangkan pembelajaran yang tidak menjemukan, menggairahkan, dan kuncinya beda namun berkelas.

 

DAFTAR PUSTAKA :

https://ciget.info/2020/02/21/buku-pendoman-discovery-inquiry-learning/

https://digitallibrary.ump.ac.id/796/2/11.%20Full%20Paper%20-%20Maskuri.pdf

https://disdikpora.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/29_mengenal-model-pembelajaran-discovery-learning

https://eprints.uny.ac.id/21658/1/04%20Ellyza%20Sri%20%20Widyastuti.pdf

https://journal.uny.ac.id/index.php/jser/article/view/34233

https://katadata.co.id/safrezi/berita/615ac8ecabdad/mengenal-model-pembelajaran-aktif-discovery-learning

https://ujione.id/model-pembelajaran-discovery-learning/

https://www.detik.com/bali/berita/d-6411929/discovery-learning-adalah-pengertian-manfaat-dan-penerapannya.

https://www.ruangkerja.id/blog/discovery-learning

https://www.sampoernaacademy.sch.id/id/pengertian-discovery-learning-langkah-kelebihan-dan-contohnya/

https://www.zenius.net/blog/discovery-learning

Mengenal Model Pembelajaran Discovery Learning - Direktorat Guru Pendidikan Dasar (kemdikbud.go.id)

https://www.youtube.com/watch?v=gbTRLrzxT3I

 

                                                                                               


 

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : maisyaroh -  [maisyarohistiqomah@gmail.com]  Tanggal : 05/12/2023
semangat pak gunallan keren sangat menginspirasi 👍

Pengirim : SRI RAHAYUNINGSIH -  [srahayuningsih@gmail.com]  Tanggal : 05/12/2023
Pembelajaran yang inovatif sangat di butuhkan di era kurikulum.merdeka saat ini. Kreatif guru sangat dibutuhkan untuk menunjang tersampaikannya pembelajaran yang berdeferensiasi

Pengirim : Nadia Listianingrum -  [nadia@guru.smp.belajar.id]  Tanggal : 05/12/2023
pembelajaran dengan model discovery learning yang telah dilakukan sangat menarik untuk di terapkan pada mata pelajaran lainnya

Pengirim : TRI WULANDARI -  [tewe.oke@gmail.com]  Tanggal : 05/12/2023
Artikel sangat bagus.
Bisa ikut menerapkan / mempraktekkan dalam KBM

Pengirim : Novi -  [novi.pwj@gmail.com]  Tanggal : 05/12/2023
Artikel sangat menginspirasi


   Kembali ke Atas