Berita
Aug 19, 2026

Sapi Kurban Haji Karim

ChatGPT Image Aug 19, 2026, 01_20_07 PM.png 2.36 MB

Takbir dari mulut Sahroni magrib itu terdengar lebih menusuk telinga. Ampli yang kakek Sahroni beli belasan tahun lalu itu belum pernah diganti lagi.  Suaranya pecah oleh angin malam yang turun dari perbukitan, memantul di dinding rumah-rumah kampung, lalu hilang di sela rumpun bambu yang membatasi rumah-rumah kampung dengan tebing sungai sedalam 5 meter. Tak ada lagi anak-anak berkeliling kampung berpawai obor, memukul bedug, dan meneriakkan takbir seperti saat Sahroni kecil.

Hampir tengah malam, Sahroni duduk di selasar masjid, agak menjauh dari orang-orang. Bau rumput basah, kotoran seekor sapi dan 3 kambing, juga tanah yang baru saja diguyur hujan bersekutu menyengat hidungnya.

"Sapi Haji Karim tahun ini paling gede lagi."

Sahroni menunduk saat mendengar kalimat itu. Ia pura-pura sibuk memeriksa ponsel agar tidak perlu ikut tersenyum. Sapi itu memang besar. Kulitnya cokelat tua dengan garis putih di dahi. 

Haji Karim ada di antara orang-orang di selasar masjid. Ia dikerubungi orang-orang kampung, membicarakan apa saja ditemani kopi dan kudapan lain kiriman jamaah sekitar masjid. Wajah Pak Karim tampak bercahaya terkena lampu neon masjid. Ia mengenakan koko putih dan peci hitam baru. Haji Karim terus senyum.

Sahroni tahu apa yang tak dilihat orang-orang itu. Dua bulan terakhir, ayahnya hampir duduk sendirian di teras samping hingga larut. jika ditanya hanya akan menjawab belum bisa tidur. Sejak berdiri toko swalayan tak jauh dari toko keluarga mereka, toko mereka berangsur sepi. Hutang distributor menumpuk. Haji Karim terlalu lama hidup dari penghormatan orang-orang.

Ibunya sedang membungkus ketupat ketika Sahroni pulang. Dandang besar mengepul di dapur. Bau santan memenuhi ruangan sempit itu.

"Bapak masih di masjid?".

Sahroni cukup mengangguk. "Semua orang  muji sapi Qurban Bapak."

Ibunya diam. Tangannya tetap sibuk memasukkan beras yang berwarna pucat setelah dicuci ke dalam ketupat.

"Sebenarnya seekor kambing saja sudah cukup. Tak ada paksaan dalam agama untuk berkorban bagi yang tidak mampu."

Tangan Bu Salmah berhenti, menjatuhkan sendok dan ketupatnya. Tapi, sebentar saja hanya untuk menatap mata anak lelakinya sebelum kembali menyelesaikan pekerjaannya.

"Tidur sana. Besok kamu harus bangun pagi."

Perempuan itu menghela napas panjang setelah perintahnya tak diikuti. Ia hafal pengarangai anaknya. Ia menuntut penjelasan. Ia akan mau menunggu lama. Atau akan mencari dengan cara apapun bila ia menginginkannya.

"Ayahmu berhutang ke Haji Darsono."

Sahroni menatap ibunya.

"Katanya nanti dibayar setelah SPPG membayar tagihan."

"Apa nilainya akan sepadan? Kapan pastinya?"

Bu Salmah menundukan pandangan.

"Bapak tidak mau tahun ini tanpa sapi."

“Demi apa?” Sahroni mengatakan itu dengan rasa sesak di dadanya. Sementara di luar rumah, suara takbir terus mengalun, tapi terdengar begitu lemah di telinganya. Malam itu, Sahroni tidak merasakan apa pun selain lelah dan mungkin sedikit marah.

***

Ketika kambing pertama disembelih, anak-anak maju mendekat. Sebagian menutup mata.

Sebagian lagi tertawa. Darah mengalir ke selokan kecil. Bau amis mulai memenuhi udara.

Sahroni membantu membawa ember. Tangannya terkena cipratan darah hangat. Ia memandangi warna merah itu beberapa saat sebelum mengelapnya. Entah mengapa ia melihat wajah ayahnya dalam bercak darah itu.

Bu Rukayah datang, menjelang siang, tentu saja sangat terlambat untuk mengambil kupon pengambilan daging kurban. Perempuan itu memakai jilbab berwarna pudar dan sandal jepit yang sudah tampak amat tipis. Dua anaknya berdiri di belakang sambil memegang kantong plastik hitam. Sahroni mengenal mereka dengan baik. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan kerja di kota. Sejak itu, Bu Rukayah hidup dari menjahit pakaian dan membantu mencuci dan setrika di rumah orang.

"Mas, masih ada kupon tambahan untuk saya? Satu saja," tanyanya dengan suara yang terlalu pelan.

Seorang panitia menggeleng. "Sudah habis, Bu. Harusnya sejak pagi mengantre kalau mau dapat."

Bu Rukayah menunduk lesu karena menelan kecewa

"Nanti kalau ada sisa kami kabari," tukas Sahroni menengahi.

Bu Rukayah mengangguk kecil dan berterima kasih. Anak bungsunya terus menatap daging-daging yang bergelantungan. 

Siang makin panas. Kini giliran sapi Haji Karim. Orang-orang berkumpul lebih banyak.

"Nah ini dia!" cetuk seseorang. Pak Karim berdiri dekat kepala sapi sambil memegang tasbih.

Sahroni melihat tangan bapaknya yang sedikit gemetar.

Empat orang menarik tali. Sapi itu melawan. Kakinya menghentak tanah. Debu beterbangan. "Tarik!"

"Pelan-pelan!" Suara gaduh memenuhi halaman. Mata sapi itu membelalak. Dan tiba-tiba hewan itu mengamuk. Tali terlepas. Orang-orang berteriak. Sapi berlari memutar halaman masjid sambil menyeret bambu pembatas. Anak-anak menangis. Panitia panik. Sahroni berusaha mengejar. Di tengah kekacauan itu Pak Karim terpeleset. Tubuhnya terjerembab keras di tanah.

"Haji Karim!" teriak seseorang. Orang-orang berkerumun. Sahroni berlari mendekat melihat bapaknya meringis menahan sakit, satu tangannya memegang dada. Wajah Haji Karim pucat. Untuk pertama kalinya Sahroni melihat ketakutan nyata di mata bapaknya. Bukan takut pada sapi.

***

Sapi akhirnya berhasil dijatuhkan di dekat lapangan voli. Penyembelihan tetap dilanjutkan. Namun, Haji Karim tidak lagi berdiri di tempat semula. Ia duduk di kursi plastik, tampak termenung, napasnya pendek-pendek.

Sahroni duduk di sebelahnya. "Pulang saja dulu, Pak."

Ayahnya menggeleng. "Orang nanti ngomong macam-macam."

Sahroni menatap ayahnya lama."Memangnya kenapa?"

Pak Karim tersenyum hambar. "Kamu belum tahu bagaimana jadi kepala keluarga."

"Sampai harus berutang demi berkurban, Pak?"

Ayahnya menoleh cepat. Sorot matanya menjelaskan kekagetan sekaligus kemarahan dibandingkan pemakluman.

"Ibumu yang bicara?"

Sahroni diam dan menunduk. Haji Karim memejamkan mata. Membuka pecinya, menyeka keringat di keningnya. Haji Karim melihat langit yang mendadak runtuh. Hatinya remuk redam.

***

Saat pembagian daging dimulai. Halaman masjid berubah seperti pasar. Orang-orang saling memanggil nama. Anak-anak membawa kantong plastik. Sahroni tampak sibuk menghadapi timbangan yang menyisakan bagian akhirnya. Sahroni merasa tenggorokannya kering. Sementara itu beberapa orang yang sebenarnya cukup mampu datang membawa dua atau tiga kupon. Panitia tak mau ambil pusing atau pura-pura tidak tahu.

Sekali lagi, Sahroni kembali melihat Bu Rukayah berdiri lagi di ujung antrean. Kali ini tanpa kedua anaknya. Dalam jarak yang cukup dekat, wajahnya tampak malu-malu saat bersitatap dengan Sahroni.

"Mas, kalau masih ada tulang juga tidak apa-apa."

Sahroni melihat baki besar tempat daging untuk warga yang mulai kosong. Beberapa panitia sudah menyisihkan bagian terbaik, entah untuk siapa, tapi jelas bukan untuk umum.

Seorang panitia lain mendekati Sahroni. "Yang jatah warga sudah habis dibagikan. Tinggal bagian panitia dan sohibul qurban."

Sahroni menatap Bu Rukayah. Entah kenapa dadanya terasa panas dan sesak. "Kasih saja bagian saya," kata Sahroni pendek.

Panitia yang lain itu mengernyit. "Jangan begitu, Mas?"

"Kasih saja Bu Rukayah itu," Sahroni mengulang.

"Nanti orang di rumahmu dapat apa, Mas?"

Sahroni senyum tipis, tapi sudah cukup membungkam semua gugatan. Sahroni mengambil satu kantong besar lalu memberikannya kepada Bu Rukayah. Perempuan itu lebih tampak kaget dan bingung daripada senang.

"Mas, ini kebanyakan. Saya hanya perlu sebagian sedikit untuk anak-anak saya. Sungguh!"

***

Malamnya, rumah Sahroni agak sepi. Haji Karim duduk di ruang tamu tanpa menyalakan televisi. Kakinya yang memar tampak bengkak dan mengkilat setelah dibalur minyak gosok oleh istrinya.

"Kamu tahu kenapa ayah keras kepala berkurban sapi?" tanya Haji Karim.

Sahroni menatap Bapaknya dengan penuh perhatian sebagai tanda ia siap mendengarkan.

"Karena Bapak lahir miskin."  Haji Karim menarik napas panjang. Mata Haji Karim menerawang jauh ke arah langit-langit rumah seolah melihat ke arah yang amat jauh. "Dulu kakekmu cuma seorang buruh tani. Saat Iduladha, kami cuma bisa lihat orang lain motong sapi. Dan, tidak selalu mendapat daging kurban. Karena itu Bapak pernah janji dalam hati kalu suatu hari harus bisa kurban sapi.”

Haji Karim telah memberi anaknya satu pelajaran berharga. Sahroni baru memahami suatu hal saat itu juga: yang tampak manusia sedang mempertahankan apa yang tampak, sebenarnya mereka sedang mempertahankan dan menghidupi luka masa lalunya.


Fakuntsin 2026


Penulis: Mufti Wibowo

Cerpen ini pernah terpublikasi di Suara Muhammadiyah edisi 11 2026 (16-31 Mei]

eduact